Semakin keras usahaku untuk melupakannya, maka semakin besar pula perasaanku kepadanya. Perasaan yang tak pernah kudapatkan sebelumnya, tentang rasa nyaman, bahagia, semangat, dan rasa ingin memiliki. Inikah yang disebut Takdir?
Yaa.. Mungkin inilah takdirku, dan aku percaya itu. Segala sesuatu yang aku alami dan rasakan bukan sekedar kebetulan semata, semua sudah diatur dan tercatat dalam Lauhul Mahfuzh, bahkan jauh sebelum Allah menciptakan Alam Semesta.
Rahasia Allah sungguh sangat luar biasa. Tak ada satu makhluk pun yang dapat mengetahui, bahkan sekalipun hanya sekedar menerka. Secara perlahan tapi pasti, satu-persatu rahasia itu akan terungkap atas izin-Nya. Seperti rahasia bintang VY Canis Majoris yang terungkap diperkirakan sebagai bintang terbesar saat ini.
Allah masih merahasiakan antara aku dan kamu, akankah menjadi "kita dimasa depan", atau hanya menjadi "kita saat ini", atau mungkin hanya sekedar "kita dimasa lalu". Yang dapat kulakukan saat ini hanyalah pasrah dan berserah diri, seraya berdo'a semoga kita diberikan yang terbaik oleh-Nya. Karena memperbaiki diri dan belajar mencintai-Nya lebih penting daripada mementingkan ego. Aku ingin mencintai dan memilikimu karena Allah, bukan karena nafsu. Maka aku akan berusaha mencari ridho-Nya terlebih dahulu, sebelum terlalu jauh melangkah tanpa arah dan tujuan. Tunggu hingga waktunya tiba, sampai Allah menunjukkan kuasa-Nya dengan memberikan restu pada kita sebagai hamba-hamba yang saling melengkapi dan menyempurnakan dalam beribadah kepada-Nya.
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berpikir."
(Qs. Ar. Ruum (30) : 21)
Kamis, 24 Maret 2016
Sabtu, 06 Februari 2016
...
Apa salahku Yaa Rabb... Hingga orang-orang dengan sangat mudahnya membenciku, mencampakkanku, bahkan mempermainkan hatiku?
Aku tak berhak menyalahkan takdir-Mu, karena aku percaya bahwa inilah yang terbaik untukku. Engkau Maha Mengetahui Segalanya, aku pasrah dibawah kuasa-Mu Yaa Rabb...
Dibalik semua ini, pasti Engkau telah merencanakan sesuatu yang lebih indah. Genggam erat tanganku, Yaa Rabb... :')
Aku tak berhak menyalahkan takdir-Mu, karena aku percaya bahwa inilah yang terbaik untukku. Engkau Maha Mengetahui Segalanya, aku pasrah dibawah kuasa-Mu Yaa Rabb...
Dibalik semua ini, pasti Engkau telah merencanakan sesuatu yang lebih indah. Genggam erat tanganku, Yaa Rabb... :')
Selasa, 19 Januari 2016
GULA DAN SEMUT
Dalam cangkir bekas kopi
Yang diletakkan diatas meja
Puluhan semut berdatangan
Bahu-membahu saling membantu
Dalam cangkir bekas kopi
Semut-semut hitam berlarian
Saling berlomba
Mengais sisa-sisa gula yang tertinggal
Dan di sudut yang lain
Semut-semut menyebar ke seluruh penjuru
Memberi kabar pada yang belum tahu
Mereka seolah berpesta
Menari-nari dibibir cangkir bekas kopi
Dengan irama yang terdengar sunyi
Bukan karena tak tahu seni
Tapi karena mereka tak mau mengusik dan terusik
Bayangkan jika derap langkahnya gaduh
Bagai parade rusa di padang rumput
Predator yang lapar akan dengan sigap menyergap
Cukup dengan langkah gemulai
Semut-semut hitam mensyukuri karunia-Nya
Mencoba memaknai hidup
Saling berbagi dengan sesamanya
Sedikitpun aku tak bergeming
Memandangi setiap gerak-geriknya
Hingga terlintas dibenakku
"Aku harus menjadi seperti gula"!
~AFQ~
Kamis, 07 Januari 2016
ASTER 2: Dibalik Puing
Aku mulai lelah membersihkan puing-puing reruntuhan yang hancur tersapu badai. Dinding-dinding kokoh telah rata dengan tanah, menjadi serpihan debu yang mudah terhempas angin.
Tak ada yang tersisa, selain rautan pensil yang memiliki cermin disisi atasnya. Rautan itu menjadi teman setiaku sejak aku masih kecil. Aku selalu membawanya kemanapun pergi, bersama dengan sebuah pensil dan buku kosong. Karena disetiap kejadian yang kualami, selalu kutuangkan dalam bentuk puisi, dan kugambarkan dalam bentuk lukisan.
Masa kecil adalah masa yang penuh imajinasi, dimana pikiran masih bersih dan belum terkontaminasi. Dimasa itulah dengan mudahnya aku berekspresi, tanpa takut tekanan dari berbagai sisi.
Kumainkan rautan itu sepanjang hari, dengan memantulkan sinar mentari yang terik menghujam bumi. Sesekali aku mengintip wajah kusam keturunan Adam dalam cermin, terlihat senyum yang dipaksakan dari bibir kecilnya, yang sungguh apabila sedikit saja terbuka, maka akan terdengar jerit tangis membahana.
Sudah terlalu lama aku sendiri, berbincang dengan sosok dalam cermin. Karena hanya sosok itulah yang selalu tersenyum padaku sepanjang waktu. Sayangnya, aku belum begitu mengenal sosok tersebut. Dan sialnya lagi, kami bertengkar hebat disaat terakhir bertemu. Kemana lagi aku harus mencarinya? Sedangkan setiap jengkal puing-puing telah kubongkar.
Aku harus berdamai dengannya, agar senyumnya kembali hadir dalam cermin yang selalu kugenggam saat ini. Untuk memudahkan pencarianku, maka telah kuputuskan untuk memberinya sebuah nama, Aster.
~AFQ~
Rabu, 30 Desember 2015
ZUBENESCHAMALI 8: Peri Kecil
Di seberang jalan, peri kecil memanggil
Dengan senyum manja, ia lambaikan tangan
Terbang tanpa sayap
Menyapa tanpa suara
Hanya sayup terdengar bisik lembutnya
“berjalanlah terus kedepan”
Aku ingin sekali melihat sayapnya
Terbuat dari bulu-bulu surga?
Ataukah dari jarum-jarum neraka?
Entah apapun bentuknya,
Yang jelas kepakannya menyejukkan jiwa
Aku takkan pernah peduli
Jika itu bulu-bulu surga, aku akan selamat dalam dekapannya
Jika itu jarum-jarum neraka, akupun hanya ingin mati dipelukannya
Peri kecil berkacamata
Aku tak tahu asal-usulnya
Yang ku tahu hanyalah,
Ia datang dari rasi bintang libra
Hadir saat aku tengah terjaga dalam mimpi
Aku pun tak tahu namanya
Aku hanya ingin memanggilnya…
ZUBENESCHAMALI
Dengan senyum manja, ia lambaikan tangan
Terbang tanpa sayap
Menyapa tanpa suara
Hanya sayup terdengar bisik lembutnya
“berjalanlah terus kedepan”
Aku, yang tengah berada di persimpangan
Tak tahu arah tujuan
Hanya mengikuti bisik hatinya
Tak tahu arah tujuan
Hanya mengikuti bisik hatinya
Aku ingin sekali melihat sayapnya
Terbuat dari bulu-bulu surga?
Ataukah dari jarum-jarum neraka?
Entah apapun bentuknya,
Yang jelas kepakannya menyejukkan jiwa
Aku takkan pernah peduli
Jika itu bulu-bulu surga, aku akan selamat dalam dekapannya
Jika itu jarum-jarum neraka, akupun hanya ingin mati dipelukannya
Peri kecil berkacamata
Aku tak tahu asal-usulnya
Yang ku tahu hanyalah,
Ia datang dari rasi bintang libra
Hadir saat aku tengah terjaga dalam mimpi
Aku pun tak tahu namanya
Aku hanya ingin memanggilnya…
ZUBENESCHAMALI
Sabtu, 26 Desember 2015
ZUBENESCHAMALI 7: Tentang Siang Itu
Aku masih ingat saat derasnya hujan menyapa permukaan telaga warna yang tenang. Riaknya memaksa sepasang burung camar yang tengah asyik terbang melayang mengitari telaga sejenak menepi, mencari tempat perlindungan sekaligus bercumbu diantara ranting pohon pinus yang bergoyang tertiup angin, seolah menari menyambut berkah hujan.
Desir angin membelai tubuh ringkihku yang mulai bermandikan air hujan yang secara berkala menghujam. Seketika itu pula tubuhku menggigil, telapak tangan mulai mengeriput, dan bibir mulai memucat. Tak ada yang mampu melindungi dan menghangatkan tubuhku dari guyuran hujan siang itu, kecuali senyum hangat Zubeneschamali.
Zubeneschamali adalah titisan bintang terang yang mungkin sengaja diutus Tuhan untuk menemaniku. Senyumnya mampu menghangatkan jiwaku, dan hadirnya mampu membuatku merasa bagai didampingi sekumpulan malaikat. Atau bahkan mungkin dia adalah malaikat yang menjelma? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.
Sesaat sebelum rintik hujan turun membentuk alunan symphony alam, Zubeneschamali memetik dua tangkai bunga aster berwarna putih dan merah muda, kemudian memberikannya padaku. Hal itu menjadi sebuah moment yang tanpa aku sadari dirasa paling berkesan hingga saat ini.
Kini aku menamakan diriku sebagai Aster. Seperti halnya bunga aster yang memiliki makna sebagai bunga lambang cinta dan kesabaran, aku akan senantiasa mencintai dan sabar menantikan Zubeneschamali untuk dapat menjadi pendamping hidupku selamanya. Hanya dia yang mampu membuatku tertawa lepas saat bahagia, dan menangis puas ketika bersedih.
Aku tak takut guyuran hujan, aku tak takut tiupan angin kencang, aku tak takut gelegar petir, dan aku tak takut tubuhku membeku, yang aku takut hanyalah jika Zubeneschamali tiba-tiba kembali terbang bersama angin.
Tuhan, jangan Kau ambil lagi kebahagiaanku yang kini kembali memanjakanku. Aku ingin selalu merasakan hangatnya dekapan Zubeneschamali-Mu. Jika harus kubayar dengan apapun, akan aku lakukan. Jika Kau hendak mengirimkan petir yang lebih besar, kirimkanlah. Jika Kau hendak memberikan hujan semakin lebat, berikanlah. Jika Kau hendak menambah suhu bumi-Mu menjadi lebih dingin, tambahkanlah. Tapi satu yang aku mohon dari-Mu, izinkan Zubeneschamali tetap bersamaku, Tuhan. Agar aku sanggup menghadapi segalanya, seperti siang itu... :')
Tuhan, jangan Kau ambil lagi kebahagiaanku yang kini kembali memanjakanku. Aku ingin selalu merasakan hangatnya dekapan Zubeneschamali-Mu. Jika harus kubayar dengan apapun, akan aku lakukan. Jika Kau hendak mengirimkan petir yang lebih besar, kirimkanlah. Jika Kau hendak memberikan hujan semakin lebat, berikanlah. Jika Kau hendak menambah suhu bumi-Mu menjadi lebih dingin, tambahkanlah. Tapi satu yang aku mohon dari-Mu, izinkan Zubeneschamali tetap bersamaku, Tuhan. Agar aku sanggup menghadapi segalanya, seperti siang itu... :')
Selasa, 15 Desember 2015
Yakin
Segala kesulitan di awal, Insya Allah akan mendatangkan banyak kemudahan selama perjalanan, dan mendatangkan kebahagiaan di akhir.
Langganan:
Postingan (Atom)
