Semakin keras usahaku untuk melupakannya, maka semakin besar pula perasaanku kepadanya. Perasaan yang tak pernah kudapatkan sebelumnya, tentang rasa nyaman, bahagia, semangat, dan rasa ingin memiliki. Inikah yang disebut Takdir?
Yaa.. Mungkin inilah takdirku, dan aku percaya itu. Segala sesuatu yang aku alami dan rasakan bukan sekedar kebetulan semata, semua sudah diatur dan tercatat dalam Lauhul Mahfuzh, bahkan jauh sebelum Allah menciptakan Alam Semesta.
Rahasia Allah sungguh sangat luar biasa. Tak ada satu makhluk pun yang dapat mengetahui, bahkan sekalipun hanya sekedar menerka. Secara perlahan tapi pasti, satu-persatu rahasia itu akan terungkap atas izin-Nya. Seperti rahasia bintang VY Canis Majoris yang terungkap diperkirakan sebagai bintang terbesar saat ini.
Allah masih merahasiakan antara aku dan kamu, akankah menjadi "kita dimasa depan", atau hanya menjadi "kita saat ini", atau mungkin hanya sekedar "kita dimasa lalu". Yang dapat kulakukan saat ini hanyalah pasrah dan berserah diri, seraya berdo'a semoga kita diberikan yang terbaik oleh-Nya. Karena memperbaiki diri dan belajar mencintai-Nya lebih penting daripada mementingkan ego. Aku ingin mencintai dan memilikimu karena Allah, bukan karena nafsu. Maka aku akan berusaha mencari ridho-Nya terlebih dahulu, sebelum terlalu jauh melangkah tanpa arah dan tujuan. Tunggu hingga waktunya tiba, sampai Allah menunjukkan kuasa-Nya dengan memberikan restu pada kita sebagai hamba-hamba yang saling melengkapi dan menyempurnakan dalam beribadah kepada-Nya.
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berpikir."
(Qs. Ar. Ruum (30) : 21)
Tampilkan postingan dengan label Motivatalk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivatalk. Tampilkan semua postingan
Kamis, 24 Maret 2016
Kamis, 07 Januari 2016
ASTER 2: Dibalik Puing
Aku mulai lelah membersihkan puing-puing reruntuhan yang hancur tersapu badai. Dinding-dinding kokoh telah rata dengan tanah, menjadi serpihan debu yang mudah terhempas angin.
Tak ada yang tersisa, selain rautan pensil yang memiliki cermin disisi atasnya. Rautan itu menjadi teman setiaku sejak aku masih kecil. Aku selalu membawanya kemanapun pergi, bersama dengan sebuah pensil dan buku kosong. Karena disetiap kejadian yang kualami, selalu kutuangkan dalam bentuk puisi, dan kugambarkan dalam bentuk lukisan.
Masa kecil adalah masa yang penuh imajinasi, dimana pikiran masih bersih dan belum terkontaminasi. Dimasa itulah dengan mudahnya aku berekspresi, tanpa takut tekanan dari berbagai sisi.
Kumainkan rautan itu sepanjang hari, dengan memantulkan sinar mentari yang terik menghujam bumi. Sesekali aku mengintip wajah kusam keturunan Adam dalam cermin, terlihat senyum yang dipaksakan dari bibir kecilnya, yang sungguh apabila sedikit saja terbuka, maka akan terdengar jerit tangis membahana.
Sudah terlalu lama aku sendiri, berbincang dengan sosok dalam cermin. Karena hanya sosok itulah yang selalu tersenyum padaku sepanjang waktu. Sayangnya, aku belum begitu mengenal sosok tersebut. Dan sialnya lagi, kami bertengkar hebat disaat terakhir bertemu. Kemana lagi aku harus mencarinya? Sedangkan setiap jengkal puing-puing telah kubongkar.
Aku harus berdamai dengannya, agar senyumnya kembali hadir dalam cermin yang selalu kugenggam saat ini. Untuk memudahkan pencarianku, maka telah kuputuskan untuk memberinya sebuah nama, Aster.
~AFQ~
Selasa, 15 Desember 2015
Yakin
Segala kesulitan di awal, Insya Allah akan mendatangkan banyak kemudahan selama perjalanan, dan mendatangkan kebahagiaan di akhir.
Minggu, 20 September 2015
Rahasia Illahi
Yaa Rabb...
Aku selalu menunggu rencana-Mu selanjutnya
Dalam do'aku selalu terselip 4 nama
dimana selalu kuharapkan agar Engkau memberikan yang terbaik untuk mereka.
Yaa Rabb...
Siang-Mu begitu terang, malam-Mu begitu tenang
dan rahasia-Mu begitu sulit untuk diterjang.
Yaa Rabb...
Tunjukkanlah jalan lurus-Mu
dan berikanlah petunjuk-Mu...
Aku selalu menunggu rencana-Mu selanjutnya
Dalam do'aku selalu terselip 4 nama
dimana selalu kuharapkan agar Engkau memberikan yang terbaik untuk mereka.
Yaa Rabb...
Siang-Mu begitu terang, malam-Mu begitu tenang
dan rahasia-Mu begitu sulit untuk diterjang.
Yaa Rabb...
Tunjukkanlah jalan lurus-Mu
dan berikanlah petunjuk-Mu...
Selasa, 08 September 2015
"Be The Light"
Some days just pass by
And some days are unforgettable
We can’t choose the reason why
But we can choose what to do from the day after
So with that hope, with that determination
Let’s make tomorrow a brighter and better day
~OOR~
Jumat, 14 Agustus 2015
Bertahan...
Aku diibaratkan sebagai pemilik bangunan tua yang lapuk, yang tak punya apa-apa, bahkan uang sepeserpun untuk merawatnya. Butuh penanganan khusus agar bangunan tersebut tetap terjaga dan tak mudah ambrol setiap sisi dindingnya.
Sakit hati itu bagaikan menancapkan puluhan paku di dinding lapuk tersebut. Meskipun paku-pakunya dapat dicabut, pasti akan meninggalkan bekas lubang. Butuh semen dan cat untuk benar-benar menghilangkan bekasnya.
Aku tak punya keahlian apapun selain mengandalkan belas kasihan. Hanya dengan sedikit mengemis, aku akan mampu membeli salah satu dari kedua barang itu.
Saat aku mampu menutup lubang itu dengan semen, namun pasti akan tetap terlihat belangnya. Begitupun jika ditutup hanya dengan mengecat kembali, juga akan tetap terlihat bolongnya.
Haruskah aku selalu mengemis untuk menjaga bangunan tuaku? Kumohon, jagalah bangunan tuaku, itu adalah hatiku. Karena hanya itulah satu-satunya tempat perlindunganku, agar aku tetap bertahan hidup.
~AFQ~
Senin, 10 Agustus 2015
Pedati Tua
Apa kabar pedati tua?
Jalanmu lambat sekali ternyata!
Sudah senjapun kau belum sampai di batas desa.
Lihatlah disekitarmu..
Semakin banyak kereta kencana berpacu
yang semula berada jauh dibelakangmu
kini berbalik jauh meninggalkanmu.
Bahkan sebagian dari mereka
ada yang telah sampai di kota.
Ingatlah, pedati tua..
Perjalanan ke kota masih sangatlah jauh.
berapa banyak lagi waktu yang kau butuh
untuk dapat segera tiba di kota?
Jika kau terus mengeluh
mungkin kau akan semakin rapuh
dan perlahan kian runtuh.
Saat itu pula, kota impian
hanyalah sebuah angan
yang terukir diantara puing-puing kerangka usang
yang lapuk dimakan zaman.
Kini hari sudah malam
Beristirahatlah sejenak di tepi jalan
Sambil meregangkan roda ringkihmu yang tak sanggup
lagi menahan berat beban
harapan para petani dan peternak di desa
yang mereka titipkan.
Susun kembali harapan itu
agar tak terjatuh satu-persatu.
Jangan takut akan gelap yang merasuk
Jangan takut akan dingin yang menusuk,
Karena janji mentari
akan segera menghangatkanmu esok pagi.
Lanjutkanlah perjalananmu esok pagi
walau jari-jari rodamu telah membengkok
walau jalanmu telah melenggok.
Teruslah melaju diatas jalan berlumpur dan berbatu
jangan takut dan jangan malu
karena kotormu saat ini
akan dipandang sebagai usaha keras pejuang sejati.
~AFQ~
Selasa, 04 Agustus 2015
Zubeneschamali 6: Cerita Tentang Seuntai Benang dan Secarik kain putih
Kemarin, aku mencoba merajut mimpi dalam gelap malam dengan seuntai benang kusut yang coba ku urai kembali. Butuh waktu cukup lama untuk mengurainya, hingga tak sadar waktu telah menunjukkan larut malam. Rasa kantuk dan lelah perlahan hadir merayuku, mencumbuku dengan gairah mimpi yang tertumpah-ruah pada secarik kain putih. Namun aku coba bertahan, karena memang itulah tujuanku. Semakin lelah aku merasa, justru semakin liar mimpiku meraba. Mataku perlahan terpejam, namun jiwaku tetap terjaga. Jemari kecilku terus bermain diatas untaian benang, hingga sedikit demi sedikit mulai terurai seiring dengan uraian air mata yang jatuh dipipiku.
Wahai angin malam, kenapa aku menangis? Bukannya aku tengah merajut mimpi indah? Apa karena aku terlalu lelah? Atau karena malammu tak merestui?
Ah, baiklah… Aku akan melanjutkannya esok pagi. Mungkin mentari yang bijak dapat merestui niatku. Lalu kuletakkan seuntai benang dan secarik kain putihku diatas meja, dan menghangatkannya dengan temaram lampu tidur. Sementara aku merebahkan diri diatas busa persegi. Kini kucoba beristirahat dalam dekapanmu, wahai angin malam. Karena hadirmu tidak membawa dingin, dan desirmu tidak membawa bising. Aku terlelap dalam tidurku, hingga esok pagi menyapaku.
Ketika pagi mulai menyapa dengan canda tawa dawn chorus, musisi alam yang melegenda, seketika itu aku bangkit dari peraduan. Ku tegakkan tubuh ringkihku dihadapan jendela kaca yang berselimut embun, kemudian kuhusap embun-embun nakal yang tersenyum manja. Lalu kuarahkan pandanganku pada satu titik, dimana sang murai tengah khidmat mendendangkan syair alam. Seketika itu pula jiwaku tenang, seolah terbang bersama sang maestro dawn chorus itu diantara dedaunan dan ranting pohon yang juga telah berselimut embun pagi.
Saat aku tengah menikmati indahnya alunan lagu cinta yang dibawakan sang murai, tidak berapa lama aku dikejutkan dengan suara bising dari sebuah benda yang berada diatas meja, yang membuat jiwaku kembali terpasung dalam raga. Ah, sial! Benda itu adalah jam weker yang berbunyi tepat pukul 7 pagi.
Astaga… Aku lupa satu hal, aku memang sengaja memasang alarm tepat pukul 7 pagi ini agar dapat kembali melanjutkan tujuanku untuk merajut mimpi. Sebetulnya mimpiku sederhana, namun mengurai benang kusutlah yang membuat segalanya menjadi sedikit lebih rumit dan memakan waktu yang lama. Maka aku harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin, agar tujuanku dapat tercapai sesuai keinginan.
Tak perlu menunggu lama, segera kuraih benang dan kain putih itu, kemudian kubawa keluar rumah. Aku duduk bersandar dibawah pohon beringin yang tumbuh tepat di halaman depan kamarku, kemudian melanjutkan kembali langkahku dalam mengurai benang kusut yang akan kurajut menjadi sebuah mimpi. Perlahan namun pasti, benang yang kusut tersebut sudah benar-benar terurai, dan aku menemukan alasanku menangis semalam. Ternyata ada sebuah jarum yang terselip diantara gumpalan benang, yang kemudian melukai jari manisku hingga aku menangis.
Tapi justru itu menjadi hikmah bagiku, karena aku tidak perlu mencari jarum untuk merajut. Rasa sakit yang kudapatkan justru dapat melancarkan niatku. Kini langkah awal yang kulakukan adalah memasukkan ujung benang kedalam lubang jarum, kemudian memainkan jemari kecilku merajut mimpi dibawah terik mentari.
Saat senja mulai tiba, aku telah menyelesaikan rajutanku. Ah, lega rasanya. Akhirnya mimpiku telah terajut. Saatnya menikmati hasilnya bersama dengan seiring bergulirnya senja. Dan saat malam tiba, aku dapat memeluk mimpiku kembali. Mimpiku adalah sebuah nama yang selalu Tuhan bisikkan padaku, saat Tuhan meniupkan ruh suci kedalam ragaku. Mimpiku adalah sebuah garis takdir yang senantiasa mengiringi langkah hidupku. Mimpiku adalah Zubeneschamali, dan aku telah merajutnya diatas kain putih dengan seuntai benang kusut yang sengaja Tuhan berikan padaku, bersama dengan jarum yang melukai jari manisku malam kemarin.
Terimakasih Tuhan, Kau telah memberikan luka pada jari manisku. Semoga dibalik luka itu, kelak aku dapat melingkarkan sebuah benda simbol pencapaian mimpi dan ikatan suci, yang juga akan melingkar di jari manis Zubeneschamali. Aamiin…
~AFQ~
Minggu, 02 Agustus 2015
Pohon Impian di Tepi Jurang
Katamu, kita bertiga sama-sama berada di tepi jurang yang sangat dalam. Satu sama lain saling menjaga, dan sama-sama berjuang untuk terbebas dari bibir jurang yang siap menelan kita dalam kehancuran. Kita bergantung pada takdir, yang mungkin akan membawa kita pada kebahagiaan, atau bahkan kesengsaraan.
Dalam urutan takdir ini, dia berada di posisi paling atas, kau berada dibawahnya, dan aku berada dibawahmu. Awalnya, dia terjatuh lebih dulu, namun tangan kirinya masih bisa menggapai sebatang pohon yang tepat tumbuh dibibir jurang. Saat kau hendak menolongnya, justru kau ikut terpeleset ketika tangan kanannya dapat kau raih. Saat itu pula kalian berdua sama-sama bergantung dan saling menguatkan.
Kemudian aku hadir diantara kalian dan mencoba untuk menyelamatkan, saat aku tahu kau sudah tak sanggup lagi bertahan. Yang terlebih dulu aku coba selamatkan adalah kau, karena kau berada dibawahnya, dan bebanmu lebih ringan. Saat kau ulurkan tangan kirimu ke atas, dengan sigap kugapai tanganmu dengan tangan kananku. sekuat tenaga kucoba menarikmu, namun aku mendengar bisikan yang membuat konsentrasiku hilang, hingga membuatku terkejut dan akhirnya ikut terpeleset.
Kini kita saling menggenggam, dan berusaha saling menolong. Namun, aku orang yang lemah dan mudah panik. Beda dengan dia yang selalu tenang walau bebannya lebih berat dari kita. aku tak sadarkan diri, aku hilang kendali, dan aku membuat posisi kalian semakin sulit. Akulah yang akan membuat salah satu diantara kita akan terjatuh, atau bahkan kita bertiga sama-sama terjatuh. Maka harus ada langkah pasti yang harus kita lakukan. Ada beberapa pilihan untuk keluar dari situasi sulit ini.
Pertama, aku melepaskan genggamanku dari tanganmu, dan mencoba pasrah saat tahu aku akan terjatuh ke dasar jurang hingga tubuhku hancur berkeping-keping. Namun masih ada harapan bagi kalian untuk naik dan terbebas dari ancaman kehancuran. Kalian masih bisa menikmati masa-masa indah dan pengalaman yang tak terlupakan, yang kelak dapat menjadi cerita pengantar tidur bagi anak cucu kalian tentang arti perjuangan.
Kedua, kau yang melepaskan genggamanmu dari tangannya, kemudian kita berdua sama-sama terjatuh ke dasar jurang yang dalam, dan sama-sama hancur. Kita bisa terus bersanding hingga ajal menjemput, dan membiarkannya hidup dengan kehidupan barunya.
Ketiga, dia yang melepaskan pegangannya dari sebatang pohon yang sementara ini menyelamatkan kita dari kemungkinan terburuk, dan membiarkan kita bertiga sama-sama terjatuh dalam jurang kehancuran, hingga akhirnya kita semua mati membusuk karena ego kita yang tak terkendali.
Apapun pilihannya, yang pasti aku akat tetap terjatuh dan mati. Tinggal bagaimana kalian menyikapinya, dan memilihkan cara terbaik bagiku dalam menghadapi kematian. Paling tidak, kita sama-sama telah mengukir kisah takdir yang tak terlupakan. Pohon itulah yang menjadi saksi, dan akan menuliskannya pada setiap akar, batang, ranting dan lembaran daunnya. Kisah itu akan abadi, hingga pohon itu tumbang dan melenyapkan kisah kita. Ingatlah, kita akan sama-sama memberi nama bagi pohon itu, dan pohon itu adalah pohon impian.
Senin, 20 Juli 2015
Keyakinanku
Ketika semua hal yang aku dapatkan saat ini belum sesuai dengan harapan, aku harus mencoba tetap tawakkal. Ketika ketulusanku terdzolimi oleh hati lain, tetaplah khusnudzon, mungkin Allah punya rencana lain yang lebih indah untuk membahagiakan hatiku kelak. Jalani saja sesua kata hatiku, jangan pernah menyerah pada keadaan. Ikhlas adalah kuncinya, dan berusaha keras adalah caranya.
Mungkin saat ini aku menjadi seorang pecundang, tapi suatu saat, aku pasti akan menjadi seorang pemenang. Aku akan tersenyum ramah menyapa jiwa-jiwa yang telah menyia-nyiakanku. Aku akan buktikan bahwa aku pantas untuk dipertahankan. Aku masih ingat Janji Allah dalam mimpiku, untuk mempertemukanku dan menyatukanku dengan Zubeneschamali, bintang impianku yang selama ini memelukku dalam mimpi.
Mimpiku takkan pernah padam, meski terpaan badai semakin ganas, meski angin kecemasn memporak-porandakan hatiku, takkan pernah ku hentikan langkahku untuk terus berjalan mencari kedamaian jiwa. Walau apa yang ku lakukan tak semudah kenyataan, walau apa yang ku jalani menghadapi banyak rintanga, aku tetap bersyukur masih diberi kesempatan untuk tetap yakin melangkah.
Selasa, 23 Juni 2015
ARTI KEIKHLASAN
Aku sudah terbiasa dengan rasa sakit, bahkan sudah tak lagi kuingat seperti apa rasanya. Walau goresan menyayat hati, walau pisau menghujam jantung, walau racun telah menyebar ke otak, aku takkan mati. Aku akan tetap bertahan dengan rasa ini, karena hanya itu yang kubisa. Aku tak dapat meyakinkanmu untuk mencintaiku sepenuh hati, karena hatimu hanya untuknya. Namun aku akan selalu berusaha mencari celah untuk masuk kedalam hatimu, walau kemungkinannya sangat kecil dan mustahil.
Dia adalah sosok bintang luar biasa yang selalu kau harapkan, yang selalu kau impikan setiap malam, dan selalu kau banggakan pada sang alam. Sinarnya terang, melebihi terangnya sinar mentari. Kesucian sinarnya mampu menitikan air mata alam dalam embun dipagi hari, hingga meluluhkan kerasnya batu yang berdiri angkuh menatap langit. Sedangkan aku, hanyalah aster kecil yang bersembunyi dibalik semak-semak di tepian telaga warna, yang tak mampu berkembang dan menjelma sebagai sosok bunga terindah penghias alam. Hidupku penuh hinaan, cacian dan makian. Karena sekujur tubuhku kotor terbalut lumpur pekat sisa luapan nafsu telaga warna. Takkan sanggup aku menjadi sepertinya, bahkan walau sekedar mendekati sepertinya sekalipun. Jika kau bersamanya, akan kau dapatkan segala yang kau impikan dan inginkan. Kebahagiaan akan selalu menyertai hari-harimu, dan kedamaian akan senantiasa mengikuti setiap langkahmu.
Disini aku hanya bisa pasrah dan berserah, hanya dengan keikhlasan hati yang mungkin bisa mengantarkanku menuju pintu hatimu, hanya dengan kepasrahan yang mungkin bisa membukanya, dan hanya dengan perubahan yang mungkin bisa mempersilahkanku masuk. Aku sedang berusaha akan hal itu, kulakukan segala cara untuk dapat meyakinkanmu, bahwa akupun bisa sedikit berubah. Namun aku tak akan memaksakan perasaanmu untuk menerimaku dengan keterpaksaan. Karena jika segala sesuatu yang didasari oleh paksaan maka hasilnya tak akan sesuai harapan, bahkan hanya akan menambah beban untuk dirimu.
Jika kau tak lagi bersamaku, kenanglah aku sebagai sosok aster bodoh yang pernah duduk lebih dekat denganmu diatas bukit bintang, memandangmu sebagai sosok bintang Zubeneschamali, dan mengharapkan pelukan hangatmu. Jika kau telah bersamanya, ingatlah bahwa aku pernah berusaha memilikimu, dan tulus memberikan segala yang kupunya untuk sekedar mendapatkan pengakuan darimu. Jika aku diberi kesempatan untuk bereinkarnasi, maka aku akan tetap memilih terlahir sebagai aku kembali, dan bertemu denganmu lagi, berkali-kali, dan terus-menerus. Karena dalam hidupku hanya ingin bersama denganmu sepanjang waktu. Hanya kau yang sanggup mengubahku, dan hanya kau yang memberikan semangat dan alasanku untuk hidup. Jika segala yang kulakukan belum mampu mengubah sebuah cerita tentangmu, maka akan kubuat menjadi sebuah cerita tentang diriku sendiri, hingga kelak akan kusampul tiap halamannya dengan kafan, dan kubingkai dengan nisan.
Sabtu, 11 April 2015
KELEDAI DI PACUAN KUDA
Aku hanya seekor keledai yang berlagak bak seekor kuda pacu yang berlari mengejar waktu. Dengan mengenakan tapal kuda yang terbuat dari kayu lapuk, dan mengikatkan pelana usang dipunggungku, kemudian aku berlari melewati rintangan ditengah arena pacu. Teriakan-teriakan dari pinggir arena saling bersahutan memanggil namaku, meski sesungguhnya aku sendiri tidak punya nama yang pasti.
Sejatinya namaku adalah keledai, tapi penonton itu memanggilku dengan sebutan bodoh, tolol, idiot, gila, atau apapun sesuka hati mereka. Begitulah teriakan yang sering kudengar sepanjang laga, seolah-olah menyemangatiku dengan nama-nama istimewa yang mereka buat khusus untukku.
Dengan semangat yang tinggi mereka berdiri dan mengarahkan jari tengahnya padaku tiap kali melintas tepat dihadapan mereka. Siulan-siulan seolah menjadi musik pengiring derap lariku. Sang komentator tak ingin ketinggalan menyebut namaku melalui pengeras suara yang menggema ke seluruh penjuru. Sorot kamera pun tak luput mengamati setiap gerak-gerikku. Aku merasa menjadi bintang sore itu.
Tanpa kenal lelah, ku pacu lariku sekencang yang ku bisa. Saat melewati rintangan pertama, aku terperosok. Ketika menghadapi rintangan kedua, aku kembali terjatuh. Begitu juga seterusnya, hal yang sama terjadi berulang-ulang setiap kali aku mencoba melewatinya hingga akhir laga. Ketika aku telah menyelesaikan satu putaran dengan nafas terengah-engah, kuda pacu yang sesungguhnya telah menyelesaikan tiga putaran dengan wajah sumringah dan senyum sinis tiap kali melewatiku. Seakan mereka tak takut lagi menjadi urutan terakhir, karena sudah dipastikan akulah yang menempati posisi itu. Dan ketika hanya tinggal menyisakan satu putaran lagi, kuda-kuda pacu itu serentak berhenti sebelum garis finish sesuai dengan posisi yang mereka tempati masing-masing. Mereka menungguku, seolah mengejekku dengan sikap arogan dan gelak tawa penuh kepuasan.
Mungkin nama-nama itu memang pantas disematkan padaku, seekor keledai yang memang tak butuh arti sebuah nama. Karena bagi keledai, hal terbaik adalah ketika mampu membuat orang tertawa terhibur, dan siap menjadi bahan pelampiasan orang yang membutuhkan. Yang terpenting lagi, keledai memang harus siap menerima rasa sakit ketika selalu terjatuh di lubang yang sama, dan harus selalu tersenyum meski menahan perih.
Usahaku tidak sia-sia. Aku dianugerahi sebagai keledai terbaik sepanjang laga, karena memang cuma aku keledai yang ikut kejuaraan itu. Dengan bangganya ku angkat trofi hina itu seraya terisak haru penuh syukur. Aku harus terus belajar jika ingin menjadi seperti kuda pacu, atau setidaknya menjadi seekor keledai tangguh. Tanpa mengenal putus asa, tanpa mengenal kata malu.
Sejatinya namaku adalah keledai, tapi penonton itu memanggilku dengan sebutan bodoh, tolol, idiot, gila, atau apapun sesuka hati mereka. Begitulah teriakan yang sering kudengar sepanjang laga, seolah-olah menyemangatiku dengan nama-nama istimewa yang mereka buat khusus untukku.
Dengan semangat yang tinggi mereka berdiri dan mengarahkan jari tengahnya padaku tiap kali melintas tepat dihadapan mereka. Siulan-siulan seolah menjadi musik pengiring derap lariku. Sang komentator tak ingin ketinggalan menyebut namaku melalui pengeras suara yang menggema ke seluruh penjuru. Sorot kamera pun tak luput mengamati setiap gerak-gerikku. Aku merasa menjadi bintang sore itu.
Tanpa kenal lelah, ku pacu lariku sekencang yang ku bisa. Saat melewati rintangan pertama, aku terperosok. Ketika menghadapi rintangan kedua, aku kembali terjatuh. Begitu juga seterusnya, hal yang sama terjadi berulang-ulang setiap kali aku mencoba melewatinya hingga akhir laga. Ketika aku telah menyelesaikan satu putaran dengan nafas terengah-engah, kuda pacu yang sesungguhnya telah menyelesaikan tiga putaran dengan wajah sumringah dan senyum sinis tiap kali melewatiku. Seakan mereka tak takut lagi menjadi urutan terakhir, karena sudah dipastikan akulah yang menempati posisi itu. Dan ketika hanya tinggal menyisakan satu putaran lagi, kuda-kuda pacu itu serentak berhenti sebelum garis finish sesuai dengan posisi yang mereka tempati masing-masing. Mereka menungguku, seolah mengejekku dengan sikap arogan dan gelak tawa penuh kepuasan.
Mungkin nama-nama itu memang pantas disematkan padaku, seekor keledai yang memang tak butuh arti sebuah nama. Karena bagi keledai, hal terbaik adalah ketika mampu membuat orang tertawa terhibur, dan siap menjadi bahan pelampiasan orang yang membutuhkan. Yang terpenting lagi, keledai memang harus siap menerima rasa sakit ketika selalu terjatuh di lubang yang sama, dan harus selalu tersenyum meski menahan perih.
Usahaku tidak sia-sia. Aku dianugerahi sebagai keledai terbaik sepanjang laga, karena memang cuma aku keledai yang ikut kejuaraan itu. Dengan bangganya ku angkat trofi hina itu seraya terisak haru penuh syukur. Aku harus terus belajar jika ingin menjadi seperti kuda pacu, atau setidaknya menjadi seekor keledai tangguh. Tanpa mengenal putus asa, tanpa mengenal kata malu.
Selasa, 31 Maret 2015
RASA SAKIT DAN KEYAKINAN
Sobat, saat ini aku mulai faham seperti apa rasanya sakit. Ketika mencoba perlahan berdiri diatas karang, tiba-tiba ombak laut pasang menghempasku hingga tenggelam ke dasar laut. Dan ketika aku ingin mencoba berenang ke permukaan, aku tak sanggup melawan derasnya arus, hingga kembali terhepas membentur karang di dasar laut.
Rasa sakit itu sungguh tak tertahan, sobat. tubuhku penuh luka akibat menghantam kerasnya karang, hingga akhirnya menyebabkan hipoksia. Aku sempat tak sadarkan diri, sebelum ada keajaiban yang luar biasa menyelamatkanku.
Kau tahu apa keajaiban itu? Keyakinan! Aku sadar, aku memang seorang aquaphobia. Tapi berkat keyakinan, aku mampu menantang ombak, walau akhirnya aku tenggelam. Tapi lagi-lagi berkat keyakinan, aku mampu keluar dari situasi mengerikan itu. Keyakinan untuk tetap bertahan hidup, menolongku dari kematian yang tak terbayangkan.
Tubuhku tiba-tiba terangkat ke permukaan, dan terbawa ombak hingga terdampar diantara pasir pantai. Saat itu aku dalam situasi tak berdaya, dan pasrah akan nasibku selanjutnya. Hingga akhirnya terik mentari menyadarkanku dengan sorot sinarnya yang menamparku. Sebuah tamparan yang membangkitkanku dari ketidaksadaran berkepanjangan.
Kita memang harus berani melawan sesuatu yang kita takuti, agar tahu seberapa besar keberanian kita. Kita juga diajarkan untuk siap menerima rasa sakit, agar tahu seberapa kuat kita menahannya. Semua itu akan membuat diri kita memahami arti hidup. Karena sejatinya hidup adalah perjuangan yang kadar penderitaannya lebih besar dari kebahagiaannya. Karena hidup adalah ujian yang harus kita tempuh guna memperoleh "sertifikat" dari Sang Pencipta.
Kini aku telah terbiasa dengan rasa sakit, dan tidak takut lagi dengan apapun yang menyakitkan. Karena aku adalah seorang pesakitan, yang selalu siap menahan sakit. Akupun yakin, keyakinanku dapat meyakinkan hatiku untuk tetap yakin.
Minggu, 15 Maret 2015
BERLARI MENGEJAR WAKTU
Dikejar waktu itu ternyata indah dan tidak melelahkan. Karena kita akan tahu kemampuan kita sesungguhnya, dan seberapa kuat mental kita dalam menghadapinya. Bukan siapa lebih cepat mencapai garis finish yang dinilai, melainkan proses kita dalam berlari.
Semakin sering kita jatuh dan bangkit lagi, maka semakin kebal pula diri kita dari rasa sakit. Begitu pula sebaliknya, semakin lancar kita berlari, maka semakin mudah pula kita meremehkan makna dari berlari itu sendiri.
Kita diajarkan untuk tidak manja, agar kita sadar akan kejamnya dunia. Mari kita balikkan keadaan, bukan kita yang dikejar waktu, melainkan kita yang harus mengejar waktu. karena logikanya waktu tidak akan pernah berjalan mundur, kawan...
~AFQ~
Langganan:
Postingan (Atom)