Sajak rindu yang tercipta dari bait-bait sepi
Memaksaku untuk memelukmu dalam mimpi
Mimpi yang selalu kunanti-nanti
Hingga malam berganti pagi
Di kejauhan sayup terdengar
Kicau burung-burung camar
Membawakan sebuah kabar
Tentang Zubeneschamali yang enggan bersinar
Debur ombak menghanyutkanku
Dalam lembut pelukanmu
Semakin tenggelam dalam rindu
Bersama jejak yang tersapu
Izinkan aku tidur kembali
Agar dapat menikmati
Segala rasa yang pernah kau beri
Sambil berharap, jangan pergi...
Selasa, 03 Mei 2016
Minggu, 24 April 2016
Udah cukup mah, aa nyerah, gak kuat lagi dengan semuanya. Maaf kalo aa udah ngecewain mamah, tapi aa gak bisa terus jalani semua ini. Aa pernah ada di titik ini sebelumnya, dan sekarang hal itu terulang lagi.
Mamah mungkin masih slalu nganggap anak mamah yang masih kecil, tapi kenyataannya sekarang aa udah dewasa, udah tau mana yang harus aa lakuin sendiri tanpa campur tangan mamah lagi. Semua yang aa alami, aa lakuin, juga udah jadi tanggungjawab aa sendiri.
Jangan salahin siapa-siapa kalo nanti jalannya kurang sesuai dengan harapan mamah, karna semua udah aa pikirin matang-matang. Aa pengen bebas mah... Aa pengen hidup tanpa ketergantungan dengan siapapun.
Izinin aa untuk jalani sendiri, hidup dengan normal, dan menjauh dari semuanya. Jangan cari aa, biar nanti aa yang cari mamah. Aa yakin, semua pasti baik-baik aja...
Love u, Mah... Love u all...
Kamis, 24 Maret 2016
Tentang Rasaku dan Rahasia-Nya
Semakin keras usahaku untuk melupakannya, maka semakin besar pula perasaanku kepadanya. Perasaan yang tak pernah kudapatkan sebelumnya, tentang rasa nyaman, bahagia, semangat, dan rasa ingin memiliki. Inikah yang disebut Takdir?
Yaa.. Mungkin inilah takdirku, dan aku percaya itu. Segala sesuatu yang aku alami dan rasakan bukan sekedar kebetulan semata, semua sudah diatur dan tercatat dalam Lauhul Mahfuzh, bahkan jauh sebelum Allah menciptakan Alam Semesta.
Rahasia Allah sungguh sangat luar biasa. Tak ada satu makhluk pun yang dapat mengetahui, bahkan sekalipun hanya sekedar menerka. Secara perlahan tapi pasti, satu-persatu rahasia itu akan terungkap atas izin-Nya. Seperti rahasia bintang VY Canis Majoris yang terungkap diperkirakan sebagai bintang terbesar saat ini.
Allah masih merahasiakan antara aku dan kamu, akankah menjadi "kita dimasa depan", atau hanya menjadi "kita saat ini", atau mungkin hanya sekedar "kita dimasa lalu". Yang dapat kulakukan saat ini hanyalah pasrah dan berserah diri, seraya berdo'a semoga kita diberikan yang terbaik oleh-Nya. Karena memperbaiki diri dan belajar mencintai-Nya lebih penting daripada mementingkan ego. Aku ingin mencintai dan memilikimu karena Allah, bukan karena nafsu. Maka aku akan berusaha mencari ridho-Nya terlebih dahulu, sebelum terlalu jauh melangkah tanpa arah dan tujuan. Tunggu hingga waktunya tiba, sampai Allah menunjukkan kuasa-Nya dengan memberikan restu pada kita sebagai hamba-hamba yang saling melengkapi dan menyempurnakan dalam beribadah kepada-Nya.
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."
(Qs. Ar. Ruum (30) : 21)
Yaa.. Mungkin inilah takdirku, dan aku percaya itu. Segala sesuatu yang aku alami dan rasakan bukan sekedar kebetulan semata, semua sudah diatur dan tercatat dalam Lauhul Mahfuzh, bahkan jauh sebelum Allah menciptakan Alam Semesta.
Rahasia Allah sungguh sangat luar biasa. Tak ada satu makhluk pun yang dapat mengetahui, bahkan sekalipun hanya sekedar menerka. Secara perlahan tapi pasti, satu-persatu rahasia itu akan terungkap atas izin-Nya. Seperti rahasia bintang VY Canis Majoris yang terungkap diperkirakan sebagai bintang terbesar saat ini.
Allah masih merahasiakan antara aku dan kamu, akankah menjadi "kita dimasa depan", atau hanya menjadi "kita saat ini", atau mungkin hanya sekedar "kita dimasa lalu". Yang dapat kulakukan saat ini hanyalah pasrah dan berserah diri, seraya berdo'a semoga kita diberikan yang terbaik oleh-Nya. Karena memperbaiki diri dan belajar mencintai-Nya lebih penting daripada mementingkan ego. Aku ingin mencintai dan memilikimu karena Allah, bukan karena nafsu. Maka aku akan berusaha mencari ridho-Nya terlebih dahulu, sebelum terlalu jauh melangkah tanpa arah dan tujuan. Tunggu hingga waktunya tiba, sampai Allah menunjukkan kuasa-Nya dengan memberikan restu pada kita sebagai hamba-hamba yang saling melengkapi dan menyempurnakan dalam beribadah kepada-Nya.
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."
(Qs. Ar. Ruum (30) : 21)
Sabtu, 06 Februari 2016
...
Apa salahku Yaa Rabb... Hingga orang-orang dengan sangat mudahnya membenciku, mencampakkanku, bahkan mempermainkan hatiku?
Aku tak berhak menyalahkan takdir-Mu, karena aku percaya bahwa inilah yang terbaik untukku. Engkau Maha Mengetahui Segalanya, aku pasrah dibawah kuasa-Mu Yaa Rabb...
Dibalik semua ini, pasti Engkau telah merencanakan sesuatu yang lebih indah. Genggam erat tanganku, Yaa Rabb... :')
Aku tak berhak menyalahkan takdir-Mu, karena aku percaya bahwa inilah yang terbaik untukku. Engkau Maha Mengetahui Segalanya, aku pasrah dibawah kuasa-Mu Yaa Rabb...
Dibalik semua ini, pasti Engkau telah merencanakan sesuatu yang lebih indah. Genggam erat tanganku, Yaa Rabb... :')
Selasa, 19 Januari 2016
GULA DAN SEMUT
Dalam cangkir bekas kopi
Yang diletakkan diatas meja
Puluhan semut berdatangan
Bahu-membahu saling membantu
Dalam cangkir bekas kopi
Semut-semut hitam berlarian
Saling berlomba
Mengais sisa-sisa gula yang tertinggal
Dan di sudut yang lain
Semut-semut menyebar ke seluruh penjuru
Memberi kabar pada yang belum tahu
Mereka seolah berpesta
Menari-nari dibibir cangkir bekas kopi
Dengan irama yang terdengar sunyi
Bukan karena tak tahu seni
Tapi karena mereka tak mau mengusik dan terusik
Bayangkan jika derap langkahnya gaduh
Bagai parade rusa di padang rumput
Predator yang lapar akan dengan sigap menyergap
Cukup dengan langkah gemulai
Semut-semut hitam mensyukuri karunia-Nya
Mencoba memaknai hidup
Saling berbagi dengan sesamanya
Sedikitpun aku tak bergeming
Memandangi setiap gerak-geriknya
Hingga terlintas dibenakku
"Aku harus menjadi seperti gula"!
~AFQ~
Kamis, 07 Januari 2016
ASTER 2: Dibalik Puing
Aku mulai lelah membersihkan puing-puing reruntuhan yang hancur tersapu badai. Dinding-dinding kokoh telah rata dengan tanah, menjadi serpihan debu yang mudah terhempas angin.
Tak ada yang tersisa, selain rautan pensil yang memiliki cermin disisi atasnya. Rautan itu menjadi teman setiaku sejak aku masih kecil. Aku selalu membawanya kemanapun pergi, bersama dengan sebuah pensil dan buku kosong. Karena disetiap kejadian yang kualami, selalu kutuangkan dalam bentuk puisi, dan kugambarkan dalam bentuk lukisan.
Masa kecil adalah masa yang penuh imajinasi, dimana pikiran masih bersih dan belum terkontaminasi. Dimasa itulah dengan mudahnya aku berekspresi, tanpa takut tekanan dari berbagai sisi.
Kumainkan rautan itu sepanjang hari, dengan memantulkan sinar mentari yang terik menghujam bumi. Sesekali aku mengintip wajah kusam keturunan Adam dalam cermin, terlihat senyum yang dipaksakan dari bibir kecilnya, yang sungguh apabila sedikit saja terbuka, maka akan terdengar jerit tangis membahana.
Sudah terlalu lama aku sendiri, berbincang dengan sosok dalam cermin. Karena hanya sosok itulah yang selalu tersenyum padaku sepanjang waktu. Sayangnya, aku belum begitu mengenal sosok tersebut. Dan sialnya lagi, kami bertengkar hebat disaat terakhir bertemu. Kemana lagi aku harus mencarinya? Sedangkan setiap jengkal puing-puing telah kubongkar.
Aku harus berdamai dengannya, agar senyumnya kembali hadir dalam cermin yang selalu kugenggam saat ini. Untuk memudahkan pencarianku, maka telah kuputuskan untuk memberinya sebuah nama, Aster.
~AFQ~
Rabu, 30 Desember 2015
ZUBENESCHAMALI 8: Peri Kecil
Di seberang jalan, peri kecil memanggil
Dengan senyum manja, ia lambaikan tangan
Terbang tanpa sayap
Menyapa tanpa suara
Hanya sayup terdengar bisik lembutnya
“berjalanlah terus kedepan”
Aku ingin sekali melihat sayapnya
Terbuat dari bulu-bulu surga?
Ataukah dari jarum-jarum neraka?
Entah apapun bentuknya,
Yang jelas kepakannya menyejukkan jiwa
Aku takkan pernah peduli
Jika itu bulu-bulu surga, aku akan selamat dalam dekapannya
Jika itu jarum-jarum neraka, akupun hanya ingin mati dipelukannya
Peri kecil berkacamata
Aku tak tahu asal-usulnya
Yang ku tahu hanyalah,
Ia datang dari rasi bintang libra
Hadir saat aku tengah terjaga dalam mimpi
Aku pun tak tahu namanya
Aku hanya ingin memanggilnya…
ZUBENESCHAMALI
Dengan senyum manja, ia lambaikan tangan
Terbang tanpa sayap
Menyapa tanpa suara
Hanya sayup terdengar bisik lembutnya
“berjalanlah terus kedepan”
Aku, yang tengah berada di persimpangan
Tak tahu arah tujuan
Hanya mengikuti bisik hatinya
Tak tahu arah tujuan
Hanya mengikuti bisik hatinya
Aku ingin sekali melihat sayapnya
Terbuat dari bulu-bulu surga?
Ataukah dari jarum-jarum neraka?
Entah apapun bentuknya,
Yang jelas kepakannya menyejukkan jiwa
Aku takkan pernah peduli
Jika itu bulu-bulu surga, aku akan selamat dalam dekapannya
Jika itu jarum-jarum neraka, akupun hanya ingin mati dipelukannya
Peri kecil berkacamata
Aku tak tahu asal-usulnya
Yang ku tahu hanyalah,
Ia datang dari rasi bintang libra
Hadir saat aku tengah terjaga dalam mimpi
Aku pun tak tahu namanya
Aku hanya ingin memanggilnya…
ZUBENESCHAMALI
Sabtu, 26 Desember 2015
ZUBENESCHAMALI 7: Tentang Siang Itu
Aku masih ingat saat derasnya hujan menyapa permukaan telaga warna yang tenang. Riaknya memaksa sepasang burung camar yang tengah asyik terbang melayang mengitari telaga sejenak menepi, mencari tempat perlindungan sekaligus bercumbu diantara ranting pohon pinus yang bergoyang tertiup angin, seolah menari menyambut berkah hujan.
Desir angin membelai tubuh ringkihku yang mulai bermandikan air hujan yang secara berkala menghujam. Seketika itu pula tubuhku menggigil, telapak tangan mulai mengeriput, dan bibir mulai memucat. Tak ada yang mampu melindungi dan menghangatkan tubuhku dari guyuran hujan siang itu, kecuali senyum hangat Zubeneschamali.
Zubeneschamali adalah titisan bintang terang yang mungkin sengaja diutus Tuhan untuk menemaniku. Senyumnya mampu menghangatkan jiwaku, dan hadirnya mampu membuatku merasa bagai didampingi sekumpulan malaikat. Atau bahkan mungkin dia adalah malaikat yang menjelma? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.
Sesaat sebelum rintik hujan turun membentuk alunan symphony alam, Zubeneschamali memetik dua tangkai bunga aster berwarna putih dan merah muda, kemudian memberikannya padaku. Hal itu menjadi sebuah moment yang tanpa aku sadari dirasa paling berkesan hingga saat ini.
Kini aku menamakan diriku sebagai Aster. Seperti halnya bunga aster yang memiliki makna sebagai bunga lambang cinta dan kesabaran, aku akan senantiasa mencintai dan sabar menantikan Zubeneschamali untuk dapat menjadi pendamping hidupku selamanya. Hanya dia yang mampu membuatku tertawa lepas saat bahagia, dan menangis puas ketika bersedih.
Aku tak takut guyuran hujan, aku tak takut tiupan angin kencang, aku tak takut gelegar petir, dan aku tak takut tubuhku membeku, yang aku takut hanyalah jika Zubeneschamali tiba-tiba kembali terbang bersama angin.
Tuhan, jangan Kau ambil lagi kebahagiaanku yang kini kembali memanjakanku. Aku ingin selalu merasakan hangatnya dekapan Zubeneschamali-Mu. Jika harus kubayar dengan apapun, akan aku lakukan. Jika Kau hendak mengirimkan petir yang lebih besar, kirimkanlah. Jika Kau hendak memberikan hujan semakin lebat, berikanlah. Jika Kau hendak menambah suhu bumi-Mu menjadi lebih dingin, tambahkanlah. Tapi satu yang aku mohon dari-Mu, izinkan Zubeneschamali tetap bersamaku, Tuhan. Agar aku sanggup menghadapi segalanya, seperti siang itu... :')
Tuhan, jangan Kau ambil lagi kebahagiaanku yang kini kembali memanjakanku. Aku ingin selalu merasakan hangatnya dekapan Zubeneschamali-Mu. Jika harus kubayar dengan apapun, akan aku lakukan. Jika Kau hendak mengirimkan petir yang lebih besar, kirimkanlah. Jika Kau hendak memberikan hujan semakin lebat, berikanlah. Jika Kau hendak menambah suhu bumi-Mu menjadi lebih dingin, tambahkanlah. Tapi satu yang aku mohon dari-Mu, izinkan Zubeneschamali tetap bersamaku, Tuhan. Agar aku sanggup menghadapi segalanya, seperti siang itu... :')
Selasa, 15 Desember 2015
Yakin
Segala kesulitan di awal, Insya Allah akan mendatangkan banyak kemudahan selama perjalanan, dan mendatangkan kebahagiaan di akhir.
Rabu, 28 Oktober 2015
Dia dan DIA
Entah apa yang kurasa
Lagi-lagi tentang dia
Selalu tentang dia
Sehingga aku sedikit melupakan DIA
Yang sejatinya Sang Pencipta dia
Sang Pencipta alam semesta
Beginikah cara DIA menyapaku?
Beginikah cara DIA membelai jiwaku?
Beginikah cara DIA mencurahkan cinta-Nya untukku?
Seolah kesedihan menjadi penghapus dosa
Seolah air mata menjadi pelepas dahaga
DIA sungguh Maha Kuasa
DIA dengan mudahnya membolak-balikkan hati
Mengatur rencana yang DIA kehendaki
Dan membuatnya menjadi pasti
Masihkah sanggup kita menentang?
Masihkah kuasa kita menantang?
Sementara DIA telah berseru lantang!
"Kau bukan siapa-siapa!"
"Kau hanya Hamba Sahaja!"
"Maka sembahlah Aku!"
"Memohonlah dalam sujud panjangmu!"
Jika kita menginginkan dia
Maka mintalah pada DIA
Agar terkabul segala pinta...
~AFQ~
Lagi-lagi tentang dia
Selalu tentang dia
Sehingga aku sedikit melupakan DIA
Yang sejatinya Sang Pencipta dia
Sang Pencipta alam semesta
Beginikah cara DIA menyapaku?
Beginikah cara DIA membelai jiwaku?
Beginikah cara DIA mencurahkan cinta-Nya untukku?
Seolah kesedihan menjadi penghapus dosa
Seolah air mata menjadi pelepas dahaga
DIA sungguh Maha Kuasa
DIA dengan mudahnya membolak-balikkan hati
Mengatur rencana yang DIA kehendaki
Dan membuatnya menjadi pasti
Masihkah sanggup kita menentang?
Masihkah kuasa kita menantang?
Sementara DIA telah berseru lantang!
"Kau bukan siapa-siapa!"
"Kau hanya Hamba Sahaja!"
"Maka sembahlah Aku!"
"Memohonlah dalam sujud panjangmu!"
Jika kita menginginkan dia
Maka mintalah pada DIA
Agar terkabul segala pinta...
~AFQ~
Minggu, 20 September 2015
Rahasia Illahi
Yaa Rabb...
Aku selalu menunggu rencana-Mu selanjutnya
Dalam do'aku selalu terselip 4 nama
dimana selalu kuharapkan agar Engkau memberikan yang terbaik untuk mereka.
Yaa Rabb...
Siang-Mu begitu terang, malam-Mu begitu tenang
dan rahasia-Mu begitu sulit untuk diterjang.
Yaa Rabb...
Tunjukkanlah jalan lurus-Mu
dan berikanlah petunjuk-Mu...
Aku selalu menunggu rencana-Mu selanjutnya
Dalam do'aku selalu terselip 4 nama
dimana selalu kuharapkan agar Engkau memberikan yang terbaik untuk mereka.
Yaa Rabb...
Siang-Mu begitu terang, malam-Mu begitu tenang
dan rahasia-Mu begitu sulit untuk diterjang.
Yaa Rabb...
Tunjukkanlah jalan lurus-Mu
dan berikanlah petunjuk-Mu...
Selasa, 08 September 2015
"Be The Light"
Some days just pass by
And some days are unforgettable
We can’t choose the reason why
But we can choose what to do from the day after
So with that hope, with that determination
Let’s make tomorrow a brighter and better day
~OOR~
One Ok Rock – My Sweet Baby (Lirik dan terjemahannya)
My baby, sweet baby
Sayangku, sayangku yang manis
I see you smiling when I close my eyes
Ku melihatmu tersenyum ketika ku menutup mata
Cause I miss you, I need you right now
Karena ku merindukanmu, sekarang ku membutuhkanmu
“Tadaima” mo roku ni ienakute gomen ne
Maaf aku hampir saja tidak mengucapkan “Aku pulang”
Never knew I’d make you feel lonely
Ku tak pernah tahu bahwa ku membuatmu kesepian
Kuchiguse no “tsukareta” boku wa iisugi dane
Dan ku mengatakan kalimat favorit “Aku lelah” terlalu sering, kan?
Kaeri wo matsu hou ga tsurai no ni
Walaupun lebih menyakitkan bagi yang menungguku pulang
And we’re back to screaming
Dan kita kembali berteriak
Sasai na koto de mata
Hal-hal sepele
Can’t stop the rain…
Hujan belum berhenti…
So tagai ni hokorazu ni ki ga tsukeba
Jadi tanpa mengalah, ku sadari kita berdua
Together again…
Bersama kembali…
‘Cause only you can drive me crazy!
Karena hanya kau yang bisa membuatku gila!
Ref:
My baby, sweet baby oh
Sayangku, sayangku yang manis, oh
Itsumo sunao ni dekinai boku wo
Pada diriku yang tak bisa jujur
Anata wa yasashiku tsutsunde kureru yuitsu no hito da yo…
Kaulah satu-satunya orang yang menyelubungiku lembut…
“I never good face to face to tell you my feeling
Another music in my heart make the feel disappearing”
Do you believe in destiny
Apa kau percaya pada takdir
‘Cause I can’t deny, baby you and I
Karena ku tak bisa menolaknya, sayang kau dan aku
Naze bokura ga koko ni iru no ka?
Kenapa kita ada disini?
Deaubeki futari ga deatta toshitara bokura
Setelah kita berdua yang ditakdirkan untuk bertemu akhirnya bertemu
Donna konnan mo koereru ne?
Kita akan bisa melewati berbagai rintangan, bukan?
Tsugou yoku kangaete
Memikirkan tentang kemudahan
Mata kimi wo komarasete…
Itu kembali menyusahkanmu…
Sonna fuu ni kyou mo mata boku wa kimi ni amae sugi
Seperti itu, hari ini pun ku kembali terlalu bergantung padamu
‘Cause only I can’t drive you crazy!
Karena hanya aku yang tak bisa membuatmu gila!
Ref:
My baby, sweet baby tte
Sayangku, sayangku yang manis
Kore karo mo saki isshou kimi ni Iitai
Mulai sekarang, sepanjang hidup
Tte boku wa kokoro kara sou omoun da yo
Itu yang ingin ku ucapkan! Itulah yang kupikirkan dari lubuk hatiku
Naa baby, please tel me, oh
Nah, sayang, tolong beritahu padaku, oh
Kotoba janakute ii karo
Tak mengapa walau tanpa kata-kata
Tada tonari de hohoende kurereba sore dake de ii kara sa!
Hanya dengan tersenyum disisiku, itu saja sudah cukup!
The world’s in a hurry…
Dunia terburu-buru…
Bokura no jikan wa tomete okou
Kan ku hentikan waktu kita
There’s nothing to worry
Tak ada yang perlu dicemaskan
Toki wa bokura wo tsuresare wa shinai yo…
Waktu tak akan menyeret kita…
My sweet baby…
Sayangku yang manis…
Senin, 31 Agustus 2015
Do'a untuk orang-orang yang telah menyayangiku...
Mah, Pak, aa mohon ampun yg sebesar-besarnya sama kalian. Mungkin aa pantes disebut anak durhaka, dan aa sadar akan hal itu. Aa gak tau lagi harus gimana, karna ini mungkin udah takdir aa. Aa pengen berontak, pengen ngelawan situasi ini, tapi semua yang aa lakuin sia-sia. Semakin aa lawan, justru semakin besar tekanan yang aa rasain.
Ikhlasin aa ya Mah, Pak. Ikhlasin sikap anak kaian yang gak berguna ini. Aa akan tangungjawab dengan apa yang udah aa lakuin. Ini jalan hidup yang aa pilih. Mungkin bukan yang terbaik menurut kalian, tapi semoga ini yang terbaik buat aa.
Ini teguran dari Allah, sekaligus peringatan atas semua dosa-dosa aa. Mamah gak perlu bilang "dosa apa mamah, sampe-sampe aa tega hukum Mamah dengan cara ini". Sungguh Mah, Pak, ini semua bukan dosa Mamah dan Bapak. Aa berani sumpah Demi Allah, aa nggak pernah sekalipun coba untuk hukum Mamah dan Bapak dengan cara ini, karna aa sendiri juga gak tau apa yang aa rasain. Aa selalu berharap yang terbaik untuk kalian.
Aa selalu inget perlakuan mamah untuk aa, dari dulu sampe sekarang gak pernah berubah, selalu perlakuin aa kayak anak kecil yang harus dijaga, yang harus diawasi, dan harus dikhawatirin setiap saat. Mamah gak pernah bisa liat aa sedikitpun sakit, mamah selalu khawatir terlalu berlebihan. Itu yang bikin aa makin gak sanggup liat mamah terus-terusan sakit karena aa.
Bapak juga akhir-akhir ini ikut berubah, dari bapak yang keliatan cuek, tanpa ngerasa apa-apa, bahkan seolah-olah keliatan tegar, tapi gara-gara aa, bapak jadi tunjukin sikap yang jauh beda dari bapak yang aa kenal. Pertama kalinya aa liat air mata bapak jatuh karna aa. Makhluk macam apa aa ini Mah, Pak?
Sikap aa memang aneh, gak pernah terbuka sama siapapun, gak pernah ngerasa puas dengan kebahagiaan yang udah sepenuhnya kalian curahin untuk aa. Seolah-olah aa gak pernah dapetin apapun dari siapapun.
Aa memang sempet ngerasa bahagia, saat ada seseorang yang mungkin tanpa disadari udah bikin hidup aa lebih baik, lebih bahagia, tapi itu sifatnya cuma sementara. Karna dia sekarang udah gak peduli dengan aa, karna dia sendiri udah gak tahan sama sikap aa yang terlalu egois dan kekanak-kanakan. Aa ikhlas Mah, Pak. Aa ikhlas dengan apa yg aa terima.
Semoga aa gak salah langkah, dan semoga apa yang udah aa pilih gak jadi beban kalian lagi. Aa kasian sama adek yang udah abis-abisan bantu aa, kasian sama orang lain yang udah capek-capek kasih semangat, tapi kesalahan ada pada diri aa sendiri. Aa cuma jadi aib keluarga, aa cuma bikin susah banyak orang.
Jadi lebih baik aa pergi dari kalian semua, biar hidup kalian lebih tenang. Semoga Allah kasih aa jalan, dan kasih aa kesempatan dengan garis takdirNya yang lebih baik, biar bisa bahagiain kalian semua yang udah tulus sayang sama aa. Kalo masih ada kesempatan itu, aa janji bakal jadi "orang" yang bisa jadi kebanggaan. Tapi kalo udah gak ada kesempatan, paling nggak aa gak akan bebani hidup kalian lagi.
Selalu do'ain yang terbaik buat aa ya Mah, Pak. Percaya sama tahdir Allah, karna Allah udah rencanain yang terbaik untuk kita semua. Aa sayang Mamah, Bapak, Adek, dan seseorang yang udah pernah bikin aa bahagia. Aa sayang kalian semua, gak akan sedikitpun perasaan ini berkurang, bahkan hilang. Aa bakal bawa perasaan ini, cuma untuk 4 nama yang selalu aa sebut dalam do'a, itu kalian. Sampai aa mati, 4 nama ini yang akan selalu aa bawa :')
Senin, 24 Agustus 2015
Persembunyian Terakhirku
Tak ku tunjukkan rasa sakitku pada siapapun lagi
Tak ku ceritakan keluhku pada siapapun lagi
Biar takdir yang kan menghapus jejakku
Biar waktu yang kan mengubur bangkaiku
Aku tak peduli
Walau angin kan menyebarkan bau busukku
Aku tak peduli
Walau orang-orang mencaciku
Aku akan tetap diam
Hingga semua bungkam
Jiwaku meronta
Namun mulutku tak sanggup lagi berbicara
Egoku melawan
Namun sudah terlanjur terabaikan
kini saatnya aku pergi
Dan berlari tanpa kaki
Mencari tempat bersembunyi
Bersama jiwa-jiwa yang telah mati
~AFQ~
Tak ku ceritakan keluhku pada siapapun lagi
Biar takdir yang kan menghapus jejakku
Biar waktu yang kan mengubur bangkaiku
Aku tak peduli
Walau angin kan menyebarkan bau busukku
Aku tak peduli
Walau orang-orang mencaciku
Aku akan tetap diam
Hingga semua bungkam
Jiwaku meronta
Namun mulutku tak sanggup lagi berbicara
Egoku melawan
Namun sudah terlanjur terabaikan
kini saatnya aku pergi
Dan berlari tanpa kaki
Mencari tempat bersembunyi
Bersama jiwa-jiwa yang telah mati
~AFQ~
Minggu, 23 Agustus 2015
Persembunyian
Aku malu padanya...
Aku malu pada kalian...
Bahkan, aku malu pada diriku sendiri...
Aku makhluk menjijikan yang terasingkan
Ditinggalkan oleh impianku,
dan dicampakkan oleh bayanganku sendiri...
Tak ada lagi tempat untuk bersembunyi, selain bersembunyi
disisi-Mu...
Jemput aku, Kekasihku
Izinkan aku berada ditempat-Mu
Engkaulah Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Engkaulah yang paling mengerti segala inginku
Hanya Engkau yang paham tentang isi hatiku
Karena Kekasih Sejati tak akan pergi meninggalkan yang terkasih...
Aku sudah tak sanggup berdiri diatas kaki sendiri
Dan aku tak sanggup tinggal dirumah sendiri
Aku ingin bersembunyi dirumah-Mu
Rumah abadi, tempat beristirahat yang paling nyaman
yang penuh dengan kejujuran dan keterbukaan
Tempat terbaik yang akan menghapus segala penat dan lelahku...
Aku malu pada kalian...
Bahkan, aku malu pada diriku sendiri...
Aku makhluk menjijikan yang terasingkan
Ditinggalkan oleh impianku,
dan dicampakkan oleh bayanganku sendiri...
Tak ada lagi tempat untuk bersembunyi, selain bersembunyi
disisi-Mu...
Jemput aku, Kekasihku
Izinkan aku berada ditempat-Mu
Engkaulah Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Engkaulah yang paling mengerti segala inginku
Hanya Engkau yang paham tentang isi hatiku
Karena Kekasih Sejati tak akan pergi meninggalkan yang terkasih...
Aku sudah tak sanggup berdiri diatas kaki sendiri
Dan aku tak sanggup tinggal dirumah sendiri
Aku ingin bersembunyi dirumah-Mu
Rumah abadi, tempat beristirahat yang paling nyaman
yang penuh dengan kejujuran dan keterbukaan
Tempat terbaik yang akan menghapus segala penat dan lelahku...
Jumat, 14 Agustus 2015
Bertahan...
Aku diibaratkan sebagai pemilik bangunan tua yang lapuk, yang tak punya apa-apa, bahkan uang sepeserpun untuk merawatnya. Butuh penanganan khusus agar bangunan tersebut tetap terjaga dan tak mudah ambrol setiap sisi dindingnya.
Sakit hati itu bagaikan menancapkan puluhan paku di dinding lapuk tersebut. Meskipun paku-pakunya dapat dicabut, pasti akan meninggalkan bekas lubang. Butuh semen dan cat untuk benar-benar menghilangkan bekasnya.
Aku tak punya keahlian apapun selain mengandalkan belas kasihan. Hanya dengan sedikit mengemis, aku akan mampu membeli salah satu dari kedua barang itu.
Saat aku mampu menutup lubang itu dengan semen, namun pasti akan tetap terlihat belangnya. Begitupun jika ditutup hanya dengan mengecat kembali, juga akan tetap terlihat bolongnya.
Haruskah aku selalu mengemis untuk menjaga bangunan tuaku? Kumohon, jagalah bangunan tuaku, itu adalah hatiku. Karena hanya itulah satu-satunya tempat perlindunganku, agar aku tetap bertahan hidup.
~AFQ~
Senin, 10 Agustus 2015
Pedati Tua
Apa kabar pedati tua?
Jalanmu lambat sekali ternyata!
Sudah senjapun kau belum sampai di batas desa.
Lihatlah disekitarmu..
Semakin banyak kereta kencana berpacu
yang semula berada jauh dibelakangmu
kini berbalik jauh meninggalkanmu.
Bahkan sebagian dari mereka
ada yang telah sampai di kota.
Ingatlah, pedati tua..
Perjalanan ke kota masih sangatlah jauh.
berapa banyak lagi waktu yang kau butuh
untuk dapat segera tiba di kota?
Jika kau terus mengeluh
mungkin kau akan semakin rapuh
dan perlahan kian runtuh.
Saat itu pula, kota impian
hanyalah sebuah angan
yang terukir diantara puing-puing kerangka usang
yang lapuk dimakan zaman.
Kini hari sudah malam
Beristirahatlah sejenak di tepi jalan
Sambil meregangkan roda ringkihmu yang tak sanggup
lagi menahan berat beban
harapan para petani dan peternak di desa
yang mereka titipkan.
Susun kembali harapan itu
agar tak terjatuh satu-persatu.
Jangan takut akan gelap yang merasuk
Jangan takut akan dingin yang menusuk,
Karena janji mentari
akan segera menghangatkanmu esok pagi.
Lanjutkanlah perjalananmu esok pagi
walau jari-jari rodamu telah membengkok
walau jalanmu telah melenggok.
Teruslah melaju diatas jalan berlumpur dan berbatu
jangan takut dan jangan malu
karena kotormu saat ini
akan dipandang sebagai usaha keras pejuang sejati.
~AFQ~
Selasa, 04 Agustus 2015
Zubeneschamali 6: Cerita Tentang Seuntai Benang dan Secarik kain putih
Kemarin, aku mencoba merajut mimpi dalam gelap malam dengan seuntai benang kusut yang coba ku urai kembali. Butuh waktu cukup lama untuk mengurainya, hingga tak sadar waktu telah menunjukkan larut malam. Rasa kantuk dan lelah perlahan hadir merayuku, mencumbuku dengan gairah mimpi yang tertumpah-ruah pada secarik kain putih. Namun aku coba bertahan, karena memang itulah tujuanku. Semakin lelah aku merasa, justru semakin liar mimpiku meraba. Mataku perlahan terpejam, namun jiwaku tetap terjaga. Jemari kecilku terus bermain diatas untaian benang, hingga sedikit demi sedikit mulai terurai seiring dengan uraian air mata yang jatuh dipipiku.
Wahai angin malam, kenapa aku menangis? Bukannya aku tengah merajut mimpi indah? Apa karena aku terlalu lelah? Atau karena malammu tak merestui?
Ah, baiklah… Aku akan melanjutkannya esok pagi. Mungkin mentari yang bijak dapat merestui niatku. Lalu kuletakkan seuntai benang dan secarik kain putihku diatas meja, dan menghangatkannya dengan temaram lampu tidur. Sementara aku merebahkan diri diatas busa persegi. Kini kucoba beristirahat dalam dekapanmu, wahai angin malam. Karena hadirmu tidak membawa dingin, dan desirmu tidak membawa bising. Aku terlelap dalam tidurku, hingga esok pagi menyapaku.
Ketika pagi mulai menyapa dengan canda tawa dawn chorus, musisi alam yang melegenda, seketika itu aku bangkit dari peraduan. Ku tegakkan tubuh ringkihku dihadapan jendela kaca yang berselimut embun, kemudian kuhusap embun-embun nakal yang tersenyum manja. Lalu kuarahkan pandanganku pada satu titik, dimana sang murai tengah khidmat mendendangkan syair alam. Seketika itu pula jiwaku tenang, seolah terbang bersama sang maestro dawn chorus itu diantara dedaunan dan ranting pohon yang juga telah berselimut embun pagi.
Saat aku tengah menikmati indahnya alunan lagu cinta yang dibawakan sang murai, tidak berapa lama aku dikejutkan dengan suara bising dari sebuah benda yang berada diatas meja, yang membuat jiwaku kembali terpasung dalam raga. Ah, sial! Benda itu adalah jam weker yang berbunyi tepat pukul 7 pagi.
Astaga… Aku lupa satu hal, aku memang sengaja memasang alarm tepat pukul 7 pagi ini agar dapat kembali melanjutkan tujuanku untuk merajut mimpi. Sebetulnya mimpiku sederhana, namun mengurai benang kusutlah yang membuat segalanya menjadi sedikit lebih rumit dan memakan waktu yang lama. Maka aku harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin, agar tujuanku dapat tercapai sesuai keinginan.
Tak perlu menunggu lama, segera kuraih benang dan kain putih itu, kemudian kubawa keluar rumah. Aku duduk bersandar dibawah pohon beringin yang tumbuh tepat di halaman depan kamarku, kemudian melanjutkan kembali langkahku dalam mengurai benang kusut yang akan kurajut menjadi sebuah mimpi. Perlahan namun pasti, benang yang kusut tersebut sudah benar-benar terurai, dan aku menemukan alasanku menangis semalam. Ternyata ada sebuah jarum yang terselip diantara gumpalan benang, yang kemudian melukai jari manisku hingga aku menangis.
Tapi justru itu menjadi hikmah bagiku, karena aku tidak perlu mencari jarum untuk merajut. Rasa sakit yang kudapatkan justru dapat melancarkan niatku. Kini langkah awal yang kulakukan adalah memasukkan ujung benang kedalam lubang jarum, kemudian memainkan jemari kecilku merajut mimpi dibawah terik mentari.
Saat senja mulai tiba, aku telah menyelesaikan rajutanku. Ah, lega rasanya. Akhirnya mimpiku telah terajut. Saatnya menikmati hasilnya bersama dengan seiring bergulirnya senja. Dan saat malam tiba, aku dapat memeluk mimpiku kembali. Mimpiku adalah sebuah nama yang selalu Tuhan bisikkan padaku, saat Tuhan meniupkan ruh suci kedalam ragaku. Mimpiku adalah sebuah garis takdir yang senantiasa mengiringi langkah hidupku. Mimpiku adalah Zubeneschamali, dan aku telah merajutnya diatas kain putih dengan seuntai benang kusut yang sengaja Tuhan berikan padaku, bersama dengan jarum yang melukai jari manisku malam kemarin.
Terimakasih Tuhan, Kau telah memberikan luka pada jari manisku. Semoga dibalik luka itu, kelak aku dapat melingkarkan sebuah benda simbol pencapaian mimpi dan ikatan suci, yang juga akan melingkar di jari manis Zubeneschamali. Aamiin…
~AFQ~
Minggu, 02 Agustus 2015
Pohon Impian di Tepi Jurang
Katamu, kita bertiga sama-sama berada di tepi jurang yang sangat dalam. Satu sama lain saling menjaga, dan sama-sama berjuang untuk terbebas dari bibir jurang yang siap menelan kita dalam kehancuran. Kita bergantung pada takdir, yang mungkin akan membawa kita pada kebahagiaan, atau bahkan kesengsaraan.
Dalam urutan takdir ini, dia berada di posisi paling atas, kau berada dibawahnya, dan aku berada dibawahmu. Awalnya, dia terjatuh lebih dulu, namun tangan kirinya masih bisa menggapai sebatang pohon yang tepat tumbuh dibibir jurang. Saat kau hendak menolongnya, justru kau ikut terpeleset ketika tangan kanannya dapat kau raih. Saat itu pula kalian berdua sama-sama bergantung dan saling menguatkan.
Kemudian aku hadir diantara kalian dan mencoba untuk menyelamatkan, saat aku tahu kau sudah tak sanggup lagi bertahan. Yang terlebih dulu aku coba selamatkan adalah kau, karena kau berada dibawahnya, dan bebanmu lebih ringan. Saat kau ulurkan tangan kirimu ke atas, dengan sigap kugapai tanganmu dengan tangan kananku. sekuat tenaga kucoba menarikmu, namun aku mendengar bisikan yang membuat konsentrasiku hilang, hingga membuatku terkejut dan akhirnya ikut terpeleset.
Kini kita saling menggenggam, dan berusaha saling menolong. Namun, aku orang yang lemah dan mudah panik. Beda dengan dia yang selalu tenang walau bebannya lebih berat dari kita. aku tak sadarkan diri, aku hilang kendali, dan aku membuat posisi kalian semakin sulit. Akulah yang akan membuat salah satu diantara kita akan terjatuh, atau bahkan kita bertiga sama-sama terjatuh. Maka harus ada langkah pasti yang harus kita lakukan. Ada beberapa pilihan untuk keluar dari situasi sulit ini.
Pertama, aku melepaskan genggamanku dari tanganmu, dan mencoba pasrah saat tahu aku akan terjatuh ke dasar jurang hingga tubuhku hancur berkeping-keping. Namun masih ada harapan bagi kalian untuk naik dan terbebas dari ancaman kehancuran. Kalian masih bisa menikmati masa-masa indah dan pengalaman yang tak terlupakan, yang kelak dapat menjadi cerita pengantar tidur bagi anak cucu kalian tentang arti perjuangan.
Kedua, kau yang melepaskan genggamanmu dari tangannya, kemudian kita berdua sama-sama terjatuh ke dasar jurang yang dalam, dan sama-sama hancur. Kita bisa terus bersanding hingga ajal menjemput, dan membiarkannya hidup dengan kehidupan barunya.
Ketiga, dia yang melepaskan pegangannya dari sebatang pohon yang sementara ini menyelamatkan kita dari kemungkinan terburuk, dan membiarkan kita bertiga sama-sama terjatuh dalam jurang kehancuran, hingga akhirnya kita semua mati membusuk karena ego kita yang tak terkendali.
Apapun pilihannya, yang pasti aku akat tetap terjatuh dan mati. Tinggal bagaimana kalian menyikapinya, dan memilihkan cara terbaik bagiku dalam menghadapi kematian. Paling tidak, kita sama-sama telah mengukir kisah takdir yang tak terlupakan. Pohon itulah yang menjadi saksi, dan akan menuliskannya pada setiap akar, batang, ranting dan lembaran daunnya. Kisah itu akan abadi, hingga pohon itu tumbang dan melenyapkan kisah kita. Ingatlah, kita akan sama-sama memberi nama bagi pohon itu, dan pohon itu adalah pohon impian.
Langganan:
Postingan (Atom)
